DPR Diguncang Aksi Rakyat, Pengamat Intelijen Soroti Tiga Sumber Kekacauan yang Mengancam Presiden Prabowo

0
195
Ket Foto: Latar belakang Aksi Demonstrasi Rabu 25/08/2025 - Ilustrasi Mafia Minyak, Agen CIA dan Penghianat dari dalam

Penulis: Ode Anwar | Redaktur: Kadarsih Lesmana

Jakarta-Metropolitan-swaraproletar.com– Aksi besar-besaran di depan Gedung DPR RI hari ini bukan hanya soal tunjangan pejabat atau kemarahan rakyat. Di balik poster-poster bertuliskan “Bubarkan DPR” dan “Rakyat Bangkit, Elit Panik”, para pengamat mulai mengendus skenario yang jauh lebih kompleks:

tiga sumber kekacauan yang mengarah langsung ke Presiden Prabowo Subianto.

Dokumen bocor yang diungkap oleh jurnalis investigasi Kit Klarenberg menyebut bahwa CIA melalui National Endowment for Democracy (NED) tengah menanam bibit revolusi warna di Indonesia. Hibah-hibah disalurkan ke LSM, partai politik, dan kandidat tertentu untuk memastikan kepentingan Washington tetap terjaga. Bahkan, laporan internal menyebut kekhawatiran Kedubes AS terhadap elektabilitas Prabowo yang dianggap terlalu kuat dan tidak mudah dikendalikan1.

Pengamat geopolitik menyebut bahwa skenario ini mirip dengan pola intervensi di negara-negara Global South: membentuk opini publik, mendanai oposisi, dan menyiapkan massa untuk menggoyang legitimasi pemimpin yang dianggap terlalu mandiri.

Di sektor energi, nama Widodo Ratanachaitong, pemilik Kernel Oil dan TIS Petroleum, kembali mencuat sebagai aktor utama dalam skema suap dan kolusi migas3. Ia diduga memiliki jaringan kuat yang menguasai pengadaan minyak mentah tanpa tender, merugikan negara, dan memperlemah kedaulatan energi nasional.

Koordinator MAKI, Boyamin Saiman, menyebut bahwa KPK terlalu lama membiarkan kasus ini menggantung, sementara mafia minyak terus bermain di belakang layar. Dugaan keterlibatan perusahaan-perusahaan dengan afiliasi Tiongkok dalam skema ini menimbulkan kekhawatiran akan pengaruh ekonomi luar negeri yang menyusup ke dalam kebijakan energi nasional.

Pengamat intelijen Amir Hamzah dan Sri Radjasa menyebut adanya “operasi garis dalam”—strategi kontra intelijen yang menyusupkan individu ke dalam struktur kekuasaan untuk melemahkan dari dalam5. Beberapa menteri yang masih berafiliasi dengan rezim sebelumnya dinilai sengaja menciptakan kegaduhan melalui kebijakan kontroversial: pajak, subsidi, tanah, dan komunikasi publik yang memicu kemarahan rakyat.

“Prabowo tidak bisa diserang langsung karena posisinya kokoh. Tapi jika orang-orang terdekatnya dilumpuhkan, maka ia akan melemah secara internal,” ujar Amir Hamzah7. Nama-nama seperti Sufmi Dasco, Hashim Djojohadikusumo, dan Sjafrie Sjamsoeddin disebut sebagai target utama serangan politik dan kampanye hitam8.

Di tengah skenario geopolitik dan sabotase internal, suara rakyat tetap menjadi penentu arah sejarah. Aksi hari ini bukan sekadar protes, tapi sinyal bahwa kesadaran politik rakyat sedang bangkit. Di antara bendera Merah Putih dan simbol tengkorak, tuntutan akan keadilan sosial dan kedaulatan politik terus bergema.

Sumber berita: : Redaksi swaraproletar.com

Oleh Redaksi: swaraproletar.com @merahmerdeka

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here