Gelombang Protes di DPR RI: Rakyat Geram, Pengamat Bicara Konstitusi

0
286
Keterangan Foto: Latar Belakang Aksi Demonstrasi Lintas ORMAS Rabu 25/08/2025 - Anggota DPR-RI Bereforia saat Rapat bersama Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto/Gibran Rakabuming Raka

Pewarta: Ode Anwar | Editor: Kadarsih Lesmana (Edisi: Selasa 26/08/2025)

Jakarta-Metropolitan-swaraproletar.com- Ribuan massa dari berbagai kalangan memadati kawasan Gedung DPR RI hari ini dalam aksi bertajuk “Revolusi Rakyat Indonesia”. Poster-poster bernada tajam seperti “Bubarkan DPR, Beban Negara” dan “Gaji Naik, Rakyat Tercekik” menjadi simbol kemarahan publik terhadap lembaga legislatif yang dinilai semakin jauh dari aspirasi rakyat.

Aksi ini dipicu oleh mencuatnya isu tunjangan perumahan anggota DPR yang mencapai Rp 50 juta per bulan, di tengah tekanan ekonomi yang dirasakan masyarakat luas. “Kami kerja dari pagi sampai malam, tapi wakil rakyat malah mikirin perutnya sendiri,” ujar Ari, seorang pengemudi ojek online yang ikut turun ke jalan.

Kericuhan sempat terjadi ketika rombongan pelajar diadang aparat di flyover Ladokgi, memicu gelombang massa untuk bergerak mundur dan menjemput mereka. Situasi memanas setelah beredar kabar penahanan sejumlah pelajar, membuat suasana di depan DPR RI semakin sulit dikendalikan.

Di tengah tuntutan ekstrem seperti pembubaran DPR dan desakan dekrit presiden, pengamat politik dari Unsoed, Dr. Indaru Setyo Nurprojo, menegaskan bahwa pembubaran DPR hanya mungkin dilakukan oleh presiden dalam kondisi khusus, yaitu jika DPR menolak RUU APBN yang diajukan pemerintah. “Konstitusi kita jelas. Presiden bisa membubarkan DPR, tapi hanya jika ada penolakan APBN. Tidak bisa sembarangan,” tegasnya.

Sementara itu, organisasi buruh besar seperti KSPSI dan kelompok mahasiswa seperti BEM SI memilih tidak terlibat dalam aksi 25 Agustus, dengan alasan ketidakjelasan inisiator dan agenda aksi. Mereka merencanakan aksi terpisah dengan tuntutan yang lebih terstruktur, seperti revisi UU dan kenaikan upah minimum.

Meski demikian, suara rakyat yang hadir hari ini menunjukkan satu hal: ada jurang yang semakin lebar antara lembaga legislatif dan rakyat yang mereka wakili. Di tengah simbol tengkorak dan bendera Merah Putih, tuntutan akan keadilan sosial dan representasi politik yang berpihak terus bergema.

Sumber berita: : Redaksi swaraproletar.com

Oleh Redaksi: swaraproletar.com @merahmerdeka

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here