0
102
Ruang SwaraProletar:
Suaranya kaum bawah
“Siapa yang Merusuh? Ketika Negara Menyulut Api, Rakyat yang Terbakar”
suara rakyat bukan kerusuhan—ia adalah panggilan untuk keadilan
Oleh: Redaksi Swaraproletar.com
RUMAH PROLETAR Indonesia
Dalam sepekan terakhir, Indonesia menyaksikan gelombang demonstrasi yang tak hanya mengguncang jalanan, tapi juga mengguncang nurani. Dari Jakarta hingga Jember, dari suara pengemudi ojol hingga jeritan buruh pabrik, satu pertanyaan menggema:
“siapa sebenarnya yang merusuh?”.
Ketika Affan Kurniawan, pengemudi ojek online, tewas dilindas kendaraan taktis polisi, negara buru-buru menyebut aksi sebagai “kerusuhan.” Tapi siapa yang menyalakan api? Rakyat yang menuntut keadilan, atau sesuatu yang menebarkan  sesuatu kemata dan ke wajah rakyat miskin?
Di tengah duka, solidaritas lintas negara justru menyala.
Dari Kuala Lumpur hingga Cebu, warga Asia Tenggara mengirim makanan dan dukungan kepada para demonstran. Mereka tahu: pemerintah kita sama-sama korup, dan rakyat kita sama-sama tertindas.
Namun, alih-alih mendengar suara rakyat, negara memilih membungkam. Aktivis ditangkap, jurnalis diintimidasi, dan pasal-pasal karet kembali digunakan sebagai palu represi.
Demokrasi yang dijanjikan berubah menjadi teater kekuasaan, di mana bicara kebenaran dianggap makar.
Sementara itu, di Kediri, ribuan buruh Gudang Garam di-PHK secara massal. Tanpa jaminan, tanpa suara. Ironi pahit: perusahaan rokok yang menghidupi jutaan rakyat justru memiskinkan mereka demi efisiensi dan laba. Negara diam, seperti biasa.
Tiga tragedi ini bukan kebetulan. Mereka adalah wajah dari satu sistem yang sama: kapitalisme monopoli yang bersekutu dengan negara represif. Ketika rakyat bersuara, mereka dibungkam. Ketika rakyat bekerja, mereka dipecat. Ketika rakyat mati, mereka disebut perusuh.
Tapi sejarah tidak ditulis oleh mereka yang berkuasa. Sejarah ditulis oleh mereka yang melawan. Dan hari ini, dari suara ojol hingga suara buruh, dari puisi mahasiswa hingga orasi diaspora, kita sedang menulis bab baru: bab tentang perlawanan, tentang solidaritas, dan tentang harapan.
Rumah Proletar Indonesia berdiri bersama mereka yang ditindas. Kami tidak akan diam. Kami tidak akan tunduk.
“Kami akan terus bersuara, karena suara rakyat bukan kerusuhan—ia adalah panggilan untuk keadilan”.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here