OPINI PROLETAR: SAATNYA KONSOLIDASI POLITIK KELAS

0
117
Keterangan Foto: Arianto Amiruddin Poetra, S.Ip.,SH.,C.IJ.,C.PW.,C.HRA.,C.AHNR.,C.HRA.,C.CPD

Oleh: Arianto Amiruddin Poetra (PENDIRI Rumah Proletar Indonesia)

Pewarta: Ode Anwar | Redaktur: Kadarsih Lesmana

Tanggal 25 Agustus 2025 menjadi penanda bahwa rakyat Indonesia tidak lagi diam. Aksi demonstrasi di depan Gedung DPR RI bukan sekadar luapan emosi, melainkan refleksi dari krisis representasi yang semakin dalam. Ketika lembaga legislatif lebih sibuk mengurus tunjangan perumahan Rp 50 juta per bulan ketimbang nasib rakyat pekerja, maka wajar jika suara “Bubarkan DPR” menggema di jalanan.

Namun, sebagai bagian dari gerakan rakyat, kami di Rumah Proletar Indonesia melihat bahwa krisis ini bukan hanya soal DPR. Ini soal arah demokrasi, kedaulatan politik, dan masa depan republik.

Tiga Titik Api yang Mengancam Demokrasi

Pertama, campur tangan asing dalam bentuk revolusi warna dan pendanaan oposisi oleh lembaga-lembaga seperti NED dan CIA.

Ini bukan teori konspirasi, tapi pola intervensi yang telah terjadi di banyak negara Global South. Ketika rakyat mulai sadar dan bangkit, kekuatan luar mulai menyusun strategi untuk mengendalikan arah perubahan.

Kedua, mafia minyak dan skandal migas yang melibatkan jaringan bisnis transnasional. Nama-nama seperti Kernel Oil dan TIS Petroleum terus bermain di belakang layar, merusak kedaulatan energi nasional. DPR gagal menjalankan fungsi pengawasan, dan justru menjadi bagian dari kompromi elit.

Ketiga, rencana jahat dari dalam pemerintahan sendiri. Beberapa menteri dan aktor politik yang masih berafiliasi dengan rezim lama diduga sengaja menciptakan kegaduhan untuk melemahkan Presiden Prabowo dari dalam. Ini bukan sekadar konflik internal, tapi strategi kontra-intelijen yang mengancam stabilitas nasional.

Konsolidasi Politik Kelas: Jawaban dari Rakyat

Sebagai respons atas situasi ini, Rumah Proletar Indonesia akan menggelar rapat konsolidasi lintas sektor pada 26 Agustus, melibatkan buruh, tani, nelayan, perempuan, pemuda, urban, dan kelompok inklusif. Kami tidak hanya menyusun strategi aksi 28 Agustus, tapi juga merumuskan narasi politik kelas yang berpihak dan regeneratif.

Kami percaya bahwa demokrasi sejati lahir dari bawah, bukan dari kompromi elit. Kami tidak sekadar menuntut, kami membangun. Kami tidak hanya marah, kami sadar. Kami tidak hanya turun ke jalan, kami sedang menulis ulang sejarah.

Seruan Terakhir

Aksi 28 Agustus bukan akhir, tapi awal dari konsolidasi rakyat yang lebih luas. Kami mengajak seluruh elemen gerakan untuk bergabung, menyusun kekuatan, dan merebut kembali ruang politik yang telah lama dikuasai oligarki.

DPR bukan lagi wakil, melainkan kaki tangan para para pendosa Republik. Saatnya Rakyat bangkit, sejarah bergerak.

Sumber berita: : Redaksi swaraproletar.com

Oleh Redaksi: swaraproletar.com @merahmerdeka

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here